Bag. 01
Sinar
pagi yang cerah mengoyak bumi Loro sae ( Timor Timur ) seiring terdengarnya
adzan subuh yang sayup-sayup dilantunkan oleh Muallaf ( orang yang baru masuk
islam ), Cipriano Ximenes yang saat itu
menjadi TBO ( Tenaga Bantuan Operasi ), yaitu orang-orang Pribumi Timor Timur
yang direkrut untuk membantu TNI dalam melaksanakan tugas operasi.
TBO
ini selain berfungsi sebagai tenaga pembantu juga sebagai juru bicara atau
penerjemah, karena Timor Timur merupakan daerah kecil yang terdiri lebih dari
32 bahasa daerah. Portugal selama ratusan tahun menerapkan devide at impera,
sehingga daerah yang satu tidak saling memahami terhadap daerah yang lainya.
Sementara bahasa regional TITUM hanya dipahami oleh segelintir keluarga yang
terpelajar atau keluarga LIURAE.
Karena
sebagian besar TNI yang bertugas di Timor Timur saat itu beragama islam sebagaimana mayoritasnya islam di Indonesia,
maka rata-rata mereka kemudian disyahadahkan untuk menjadi muslim
atas kemauanya sendiri. Karena memang tidak ada paksaan didalam memeluk islam (
QS. 2 : 256 ).
Seiring
dengan banyaknya TBO yang direkrut, maka dengan cepat norma-norma islam dan
nilai-nilai luhur islam yang tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggianya
tersebar keseluruh wilayah yang dijamah oleh TNI. Dogma-dogma islam dan
pengamalan ritual keislaman semakin akrap dan dapat dibedakan dengan mudah oleh
masyarakat Timor Leste. Integrasi transcendental mulai merambah, warna-warni
keislaman tumbuh menghijau dibumi Timor Timur yang gersang. Masjid-masjid dan
surau sebagai kebutuhan primer seorang muslim bermunculan dikantor-kantor
pemerintah maupun swasta.
Sementara
itu komunitas kecil orang-orang Arab di Kampung Alor Dili yang memang sudah ada
sejak zaman Portugis memberikan apresiasi kepada para TNI dan TBO yang telah
memeluk Islam. Di sebuah Masjid kecil “ AN-NUR “ yang berdiri mungil menjadi
saksi sejarah betapa perjuangan panjang orang-orang keturunan Arab di Timor
Timur dalam menjaga dan mempertahankan Aqidah islamiyah telah lama berlangsung.
Akumulasi kepentingan berhimpun menjadi satu. Kepentingan idiologi,
nasionalisme dan keduniaan yang dikemas dalam bingkai islam, ad din
yang syaamil-mutakaamil.
Pekerja
keras, pantang menyerah dan nawaitu yang tulus mengemban amanah ilahiyah dan
aplikasi kalimah Tauhid لا إله إلا
الله mengantarkan mereka pada Ruang
Tahanan, tempat pembuangan dan bahkan pada posisi pemerintahan yang strategis.
Semua berjalan dengan irama kehidupan yang dinamis sesuai suhu politik yang
terjadi saat itu.
Masjid
AN-NUR yang menjadi pusat kegiatan, kini telah berubah sejak zaman integrasi
Timor Timur ke Indonesia di zaman Orde baru.
Pusat kegiatan umat islam yang telah sekian lama dibonsai Pemerintah
Kolonial Portugal telah berubah menjadi sebuah Masjid yang megah berwibawa
dengan berbagai fasilitas yang memadai. ICMI, MUI dan perhelatan besar pernah
mangkir dan diselenggarakan di Masjid
ini. Tercatatlah nama-nama tokoh mereka yang sangat heroic; Syekh Umar Balafif,
Syekh Imam Hasan Balafif, Syekh Abdullah Sagran, Syekh Abdullah Salim Sagran,
Syekh Abdullah Basarewan, Syekh Salim Al katiri dan lain-lain yang sangat
dikenal oleh kalangan TNI maupun Sipil yang bertugas di Timor Timur saat itu.
Mereka
dengan dedikasi yang tinggi dan semangat patriotisme turut serta membangun dan
memperjuangkan tegaknya kedaulatan Negara yang merupakan panggilan Ilahiyah
sebagai bentuk ibadah ghoiru mahdzoh kepada Allah. Usaha yang tidak pernah sia-sia
dihadapan Allah pemilik jagad ini “…..dan kebaikan apa saja yang kamu
perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah
sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah
ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
“. ( Qs. 73 : 20 )
Setelah
pemeluk Islam semakin banyak dan dirasa tidak mampu membina mereka, maka “
YAYASAN AN-NUR” melalui tokoh-tokoh itu
kemudian menggandeng saudaranya di bagian barat untuk membantu dan turut serta
mengirim da’i dan guru ngaji ke Timor Timur. Terdapatlah kemudian lembaga
keagamaan dan da’wah seperti DDII ( Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia ) dan
Yayasan Al Falah Surabaya memberikan respons positif dengan mengirimkan tujuh
orang da’I Lii’laai kalimatillah
ke Timor Timur di tahun 1981. Gelombang pertama dikirim 7 orang setelah
diberikan pembekalan yang cukup meliputi pemahaman kultur sosio budaya,
geografis, demograf is dan social politik Timor Timur.
Dengan
berbekal materi ala kadarnya, jawara-jawara da’wah ini membulatkan tekat
untuk menanam benih Ketauhidan ditanah
yang tandus dan berduri. Tidak ada sanak, tidak
ada teman dan tidak berhandai tolan mereka bertolak dari Masjid Al Falah
Surabaya dengan mengendarai mobil ambulan menuju Airport Juanda. Mudah-mudahan
mobil ambulan ini tidak menjadi kendaraan mereka menuju rumah sakit, tetapi
sekedar alat transportasi kendaraan mereka menuju tanah gersang yang tandus dan berduri dengan muatan kalimat
tauhid yang suci لا إله إلا الله.
Allah
yarham Ust. Shaleh Umar Bayasut yang mengantarkan mereka dengan menitikkan air
mata seorang ayah kepada anak-anaknya banyak berharap kiranya Allah memberikan
kemudahan langkah, kekuatan iman untuk agama Allah yang rahmatan lil aalamin
ini.
“ bukan ketenaran yang engkau cari,
bukan kekayaan yang engkau dapatkan
dan ……
bukan pula kedudukan yang engkau impikan.
Tetapi….
Allah menjanjikan kehormatan,
Kemulyaan, Keabadian
dan balasan ukhrawi yang lebih besar
dari apa yang engkau perkirakan “
Hati
yang berat karena harus meninggalkan kekasih, pikiran yang pekat karena harus
berpisah dengan keluarga. Air mata kesedihan menggantung dipelupuk mata,
bibir-bibir mungil yang bergetar tanpa kata. Namun jauh didalam lubuk hati
untaian kalimat mengalun merdu, mengirinya derap langkah para mujahid
muda: يا ربي إليك مقصودي ورضاك مطلوبي Allah,….kepadaMu hasrat dan niat tertuju, keridlo-anMu
pula harapan dan tujuanku.
Ya,
padamu para pewaris Nabi, rahmat dan karunia Allah. Semoga kesabaran dan keihlasan
selalu mewarnai gerak langkahmu. Allahu akbar.
Mujahid-mujahid
itu: 01
Pembawaannya
kalem, kutu buku, low profile, senyumnya menyejukkan hati dan selalu tampil
sederhana. Tentang keilmuannya, wah,,,,,, mutabakh-khir, samudra terpendam yang
menyimpan beragam ilmu berharga. Alumni King Saud University Riyadh ini sangat
piyawai dan mempesona. Anehnya dia istiqomah dengan tidak mau belajar menyetir
mobil, dan tidak ingin bisa, cukuplah sepeda motor saja. Oh ya, chek….chek….. ?
Saudara
kita ini adalah Jawara da’wah yang dikirim gelombang pertama tahun 1981 “ Sumitro Mangkusasmito “. Yang
ditempatkan di Masjid An nur Dili. Sebagai yang dituakan oleh rekan-rekannya,
ia menjadi gudang rujukan, menghimpun pengaduan dan keluh kesah, curhat
rekan-rekannya yang lain.
Tangan dinginnya yang produktif dan kegemarannya
berimprofisasi menjadikan semaraknya kota Dili dengan berbagai kegiatan
keagamaan dan majlis-majlis ta’lim. YAKIN ( Yayasan Kesejahteraan Islam
Nasrullah ) adalah buah tangan beliau bersama Syekh Abdullah Salim Sagran yang
bermarkas di Bidau. Masjid Perumnas Bairupite, Masjid Muhajirin di Marcado dan
lain-lain adalah kenangan yang mungkin kini tinggal atsar. Kepiluan dan duka
yang mendalam, karena tempat-tempat itu tinggal kenangan untuk dikenang dan
dinilai dihadapan Allah bahwa disana pernah terjadi harokah islamiyah untuk
meninggikan kalimat Allah.
Terlahir di Bojonegoro Jawa Timur dan beristrikan Dra.
Raminah putri jelita dari Sulawesi Selatan yang dikaruniai tiga orang anak.
Sejoli yang kompak dan sinergik tampak saling mengisi dan melengkapi didalam
kegiatan da’wah ilallah menjadikan pasangan ini kental dengan nilai-nilai
ukhuwah islamiyah yang dikerumuni oleh ikhwan fiddin dari berbagai suku dan
ras.
Kini setelah Timor Timur menjadi Timor Leste, ia mukim
di Sulawesi Selatan dengan dunia yang sudah sulit ditinggalkannya, da’wah
ilallah. Ini Nomor kontaknya 08524268870. Semoga !
Salam ta’dzim Ustadz, selamat berjuang
dari akhuukum fillahi